Nenek Moyangku Seorang Pedagang Rempah-Rempah : Sejarah Rempah Indonesia yang Mendunia.

Pernah dengar lagu “nenek moyangku”? lagu anak ciptaan Ibu Sud yang menceritakan ketangguhan Nenek Moyang Bangsa Indonesia dalam mengarungi samudra luas.

Ya, nenek moyang kita adalah seorang pelaut, tapi untuk apa nenek moyang kita mengarungi samudra luas? Keberadaan nusantara yang dikelilingi oleh laut membuat masyarakat nusantara sangat akrab dengan budaya bahari.

Ketangguhan para pelaut nusantara juga dikisahkan pada ukiran relief di Candi Borobudur. Salah satunya adalah gambar perahu bercadik yang dipahat di salah satu dinding candi. Perahu ini diyakini sebagai perahu yang membawa para pedagang dari Jawa mengarungi lautan dalam perdagangan rempah-rempah pada abad ke-8.

Tidak hanya digunakan untuk berlayar ke berbagai wilayah nusantara, tapi nenek moyang bangsa Indonesia juga berlayar sampai ke Afrika. Para pedagang dari tanah air berlayar menempuh jarak ribuan mil melintasi Samudra Hindia menuju Maladewa, Madagaskar hingga ke Pantai Timur Afrika.

Pelayaran itu diperkirakan sudah dilakukan oleh orang-orang di nusantara sekitar abad-abad terakhir menjelang milenium pertama.

Komoditi yang di dagangkan diantaranya, permata berhias, tembikar dan produk yang terbuat dari tembaga, besi emas juga berbagai rempah-rempah terutama kayu manis. Jauh sebelum monopoli perdagangan rempah-rempah oleh Bangsa Eropa.

Perdagangan rempah-rempah di dunia diramaikan oleh para pedangan Arab, Cina, Afrika dan Nusantara. Perdagangan dijalur rempah telah memberikan pengaruh pada kebudayaan Indonesia dan juga dunia.

Interaksi yang terjalin antara pedagang Arab, China, Afrika dengan pedagang dari nusantara telah menciptakan persilangan budaya diantara bangsa-bangsa itu. Selain sebagai produsen rempah-rempah, para pedagang dari nusantara juga mengekspor sendiri rempah-rempah termasuk kayu manis dengan menggunakan perahu dan kapal kecil.

Rute yang ditempuh nenek moyang kita kala itu adalah rute kuno yang disebut Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route).

Popularitas dan nilai ekonomi yang tinggi dari rempah-rempah Indonesia seperti kayu manis, pala, cengkih dan lada membuat bangsa Eropa berlayar untuk mencari tahu asal-usul mereka.

Semerbak harum rempah-rempah akhirnya membawa Bangsa Eropa datang ke bumi nusantara. Peperangan dan perebutan kekuasaan atas wilayah penghasil rempah pun terjadi.

Hingga akhirnya Belanda dengan organisasi dagangnya VOC memonopoli perdagangan rempah dunia di abad 17-18. Pedagangan rempah oleh Bangsa Eropa kemudian menjadi awal masa kolonialisme di Indonesia dan Asia. Hingga hari ini rempah-rempah Indonesia menjadi komoditas unggulan dalam perdagangan rempah dunia

Comments

Popular posts from this blog

Athar, Upin dan Ipin

Dolanan (Cerpen)

Eco-anxiety, Gangguan Kecemasan Terhadap Kerusakan Lingkungan